suara62.id || Jepara – Aksi unjuk rasa yang berujung anarkis di Kabupaten Jepara pada Sabtu hingga Minggu, 30-31 Agustus 2025, telah menarik perhatian berbagai pihak.
Salahsatunya dari FKOJ atau Forum Komunikasi Ormas dan LSM Jepara yang terdiri dari Pemuda Pancasila, PEKAT-IB, GRIB Jaya, BSM, GMBI, Squad Nusantara, MAI, dan JBS.

Demonstrasi yang awalnya berjalan aman di depan Mapolres Jepara pada Sabtu malam (30/8) berubah menjadi kerusuhan setelah massa membakar ban di tengah jalan Jembatan Kanal dan melakukan aksi anarkis di Gedung DPRD Jepara, termasuk pembakaran dan penjarahan.

Priyo Hardono, Juru Bicara Forum Komunikasi Ormas dan LSM Jepara (FKOJ), Sabtu (6/9/2025) di Angkringan belakang kantor PLN Jepara secara khusus menyoroti dan mengevaluasi lemahnya kinerja deteksi dini intelijen Kasat Intelkam Polres Jepara dan Tim Wasdinda atau Tim Kewaspadaan Dini Daerah dalam mengantisipasi potensi kerusuhan sebelum dan selama demo berlangsung. Menurutnya, terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab utama lemahnya deteksi dan antisipasi Intelkam Polres Jepara.

Faktor Penyebab Lemahnya Deteksi Intelkam dan Tim Wasdinda Jepara

  1. Kurangnya Antisipasi Intelijen saat Berbarengan dengan Event Besar baik Intelkam dan Tim Wasdinda Jepara
    Pada hari Sabtu (30/8), unjuk rasa bertepatan dengan pertandingan sepak bola Indonesia Super League antara Persijap Jepara melawan Arema Malang. Kondisi ini sempat dianggap menguntungkan karena pertandingan berakhir imbang tanpa gol sehingga tidak memicu kekecewaan dari supporter. Namun, kurangnya antisipasi dari Intelkam pada momentum tersebut justru membuka peluang bagi massa aksi untuk berkumpul dan berkembang menjadi anarkis.
  2. Adanya Event Hiburan yang Mengundang Massa
    Pada Sabtu malam yang sama, digelar pertunjukan DJ Almira Berto X Romansa Nyeses di Lapangan Desa Ngabul yang berhasil mengundang banyak massa. Setelah acara selesai, banyak penonton yang memilih menghabiskan waktu akhir pekan di Jepara, sehingga memperbesar potensi kerumunan yang tidak terkontrol.
  3. Dukungan Fasilitasi Makan Gratis untuk Pendemo
    Beredar video TikTok yang menunjukkan salah satu oknum DPR RI berinisial JM atau dikenal sebagai Ultraman mengajak dan memfasilitasi makan gratis bagi para pendemo di angkringan depan Gedung Wanita dan sepanjang jalan MT. Haryono, Jepara. Hal ini diduga menjadi amunisi atau energi tambahan bagi massa demo, yang sebagian besar merupakan anak-anak muda dan di antaranya anak di bawah umur. Setelah kerusuhan, sejumlah pendemo ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Jepara.
  4. Kurangnya Sinergi dan Komunikasi Kasat Intelkam dan Tim Wasdinda Jepara dengan Ormas dan LSM
    Priyo Hardono mengungkapkan bahwa selama satu tahun terakhir, Kasat Intelkam Polres Jepara dan Tim Wasdinda Jepara kurang menjalin komunikasi dan sinergi dengan ormas dan LSM yang aktif di Jepara. Ormas dan LSM baru diajak berkumpul dan diajak menjaga keamanan ketika masalah sudah muncul, bukan sebagai langkah pencegahan.

Kritik dan Harapan dari Forum Komunikasi Ormas LSM Jepara

Priyo Hardono menyayangkan lemahnya koordinasi ini, yang menyebabkan seruan-seruan damai baru muncul setelah kejadian, bukan sebelum. Menurutnya, Kasat Intelkam dan Tim Wasdinda Jepara seharusnya mampu merangkul ormas dan LSM untuk bersama-sama mengajak masyarakat agar tidak ikut dalam aksi unjuk rasa yang merugikan, seperti yang terjadi dengan terbakar dan dirusaknya Gedung DPRD Jepara.

Lebih jauh, Mbah Priyo menegaskan bahwa tidak ada sistem peringatan dini (early warning) yang efektif dan Kasat Intelkam dan Tim Wasdinda Jepara kurang kooperatif dengan para aktivis lokal yang lebih memahami situasi sosial di Jepara. Ia berharap Kapolres Jepara dapat segera mengevaluasi kinerja Kasat Intelkam selama satu tahun terakhir agar peristiwa serupa tidak terulang dan tidak menurunkan kepercayaan investor yang berdampak pada pembangunan daerah.

FKOJ Siap Bersinergi

Sebagai penutup, Priyo Hardono menyatakan bahwa FKOJ bersama TNI dan Polri siap bekerja sama dan memberikan informasi terkait potensi tindak anarkis saat aksi unjuk rasa mendatang demi menjaga kondusifitas Kabupaten Jepara.
(sus/Jateng)

By suara62

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *