Suara62.id || Provinsi Banten — Dalam sebuah seminar kepemimpinan dan manajemen kinerja, para pemimpin bisnis kembali diingatkan bahwa ancaman terbesar dalam organisasi bukan selalu berasal dari kompetitor. Justru, ancaman itu kerap datang dari dalam: karyawan yang tidak kompeten, tidak peduli, tidak konsisten, dan sulit bekerja tanpa pengawasan intensif.
Seorang pembicara dalam seminar tersebut menjelaskan bahwa kualitas sumber daya manusia menentukan kecepatan dan daya saing organisasi. Ketika karyawan tidak memiliki tanggung jawab profesional, perusahaan pelan-pelan bergerak menuju penurunan performa.
“Jika seseorang sudah diberi fasilitas dan arahan, tetapi hasil kerjanya tetap buruk, maka perusahaan sedang diperas pelan-pelan,” tegasnya.
Di antara materi yang disampaikan, terdapat empat ciri karyawan yang dianggap paling menghambat kemajuan organisasi, ditambah satu tipe karyawan yang semakin sering ditemukan di lingkungan kerja modern.
- Selalu Mengulang Kesalahan yang Sama
Kesalahan adalah hal wajar, namun kesalahan yang berulang dengan pola yang sama menunjukkan karakter yang tidak berubah.
Menurut pembicara, seseorang yang jatuh pada kesalahan serupa tiga kali bukan lagi persoalan kemampuan, tetapi persoalan komitmen dan karakter. Pemimpin yang terus memberi kesempatan tanpa batas justru sedang mengorbankan anggota tim lain yang ingin berkembang.
- Bekerja dengan Sikap “Bodo Amatan”
Karyawan yang acuh tak acuh dan sekadar bekerja tanpa hati dinilai sangat berbahaya bagi perusahaan.
Ketidaktahuan masih bisa dilatih, tetapi ketidakpedulian menurunkan standar organisasi dan mendorong budaya kerja yang lamban.
Ketika kualitas kerja tidak dianggap penting, perusahaan sedang berjalan menuju degradasi sistemik.
- Tidak Konsisten: Sibuk Bicara, Minim Hasil
Fenomena umum berikutnya adalah karyawan yang terlihat sibuk, aktif dalam diskusi, dan sering bersuara—namun hasil kerjanya minim atau tidak dapat diprediksi.
“Waspadai mereka yang selalu tampak bekerja, tetapi tidak pernah menghasilkan,” ujar pembicara.

Tipe seperti ini menciptakan ritme kerja yang tidak stabil dan memperlambat produktivitas tim.
- Membuat Masalah Baru Sebelum Menyelesaikan Masalah Lama
Ada pula karyawan yang lebih cepat menciptakan konflik, drama internal, atau revisi baru, dibanding menuntaskan pekerjaan inti.
Alih-alih menjadi problem-solver, mereka justru menjadi problem generator yang menguras energi perusahaan.
Tambahan: Tipe “Babysitting Employee” – Karyawan yang Harus Diawasi Terus-Menerus
Dalam paparan lain yang disampaikan dalam sesi seminar, muncul istilah “babysitting employee”—yakni karyawan yang hanya bisa bekerja jika terus ditanya, dipantau, diarahkan, ditelepon, atau diingatkan.
Karyawan tipe ini membuat organisasi bergerak lambat karena pemimpin menghabiskan waktu untuk mengawasi, bukan berpikir strategis.
Mereka digolongkan sebagai bagian dari kelompok low performer, yang apabila tidak ditindak tegas akan menurunkan:
- kinerja keseluruhan,
- budaya kerja,
- margin perusahaan,
- dan kecepatan organisasi dalam mengambil keputusan.
Seminar tersebut juga menyoroti bahwa pemimpin modern membutuhkan keberanian mengambil keputusan yang tidak populer namun penting untuk menyelamatkan organisasi—termasuk menindak tegas low performer demi menjaga masa depan tim.
Pesan Penting untuk Para Pemimpin
Materi seminar ini menegaskan bahwa kualitas sumber daya manusia adalah fondasi utama keberlangsungan perusahaan. Mengabaikan empat ciri penghambat kemajuan—ditambah pola perilaku babysitting employee—sama artinya dengan membiarkan bisnis berjalan menuju perlambatan dan potensi kerugian jangka panjang.
Pemimpin tidak hanya dituntut mampu membuat strategi bisnis, tetapi juga berani menjaga standar kualitas internal melalui keputusan yang jelas, tegas, dan konsisten.(pers.co.id)