suara62.id || Jepara – Penemuan mayat seorang perempuan bernama Khoiriyah bin Zakaria ( Alm ), beralamat di Desa Kerso RT. 05 RW 01 Kecamatan Kedung, Kabupaten, Jepara pada hari Sabtu (08/11/2025) sekira pukul 06.00 WIB telah di ketahui meninggal dunia di dalam kamar rumah milik JR, Desa Ngasem RT. 05 / RW 01 Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara. Pada saat ditemukan mayat di kamar tersebut, ada 4 saksi yang mengetahui yaitu JR, MSN, UAR dan MR.

Peristiwa ini menghebohkan warga masyarakat khususnya Desa Kerso tempat tinggal korban dan warga masyarakat Desa Ngasem tempat penemuan mayat.

Menurut keterangan dan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, mayat korban dinyatakan dalam pemeriksaan oleh Dokter Haris Taqwa (Puskesmas Batealit) bahwa tidak ditemukan luka / tanda kekerasan pada badan korban / jenazah, terdapat lebam mayat di wajah, dan diperkirakan korban meninggal dunia sudah sekitar 2 jam. Lalu oleh Suharto ipar korban menggunakan mobil mobil siaga Desa Kerso untuk di makamkan.

Kemudian adanya peristiwa itu, Edy Santoso alias Mbah San dari DPC LPHI Jepara melakukan penelusuran dan pulbaket atau pengumpulan bahan, data dan keterangan dari berbagai narasumber baik warga Desa Ngasem dan Desa Kerso.
“Keterangan dari dokter yang menyatakan adanya lebam mayat wajah perlu di pertanyakan kembali kepada dokter bersangkutan. Karena menurut pengakuan saudaranya biasa nya korban memakai make up untuk menutupi flek hitam diwajahnya,” ucap Mbah San.

Minggu siang, (09/11/2025) Mbah San mengorek keterangan dan memperoleh informasi dari tetangga korban berinisial GD yang memberikan informasi bahwa sebelumnya pernah korban atau Khoiriyah didatangi oleh sekitar 4-5 orang dengan menggunakan mobil merek Honda Brio warna merah.
“Beberapa minggu sebelum meninggalnya korban. Korban pernah dijemput paksa oleh 4-5 orang. Namun saat saya datangi dan menjelaskan kalau saya keamanan kampung dan tidak setuju kalau korban akan dibawa mereka. Infonya terkait hutang rental motor dengan biaya sewa Rp.50rb namun hingga dipakai 4 bulan, korban belum membayar biaya sewa,” katanya.

Kemudian GD mendengar kalau korban selama 2 minggu kerja sebagai PRT atau pembantu rumahtangga di Desa Ngasem dengan perjanjian gajinya dipotong untuk bayar hutang. “Hingga akhirnya saya kaget dan mendengar kalau Khoiriyah meninggal dunia di Desa Ngasem,” jelas GD kepada Mbah San.

Sementara pihak keluarga korban bernama Rojak mengatakan kalau pada saat kejadian di TKP, saudara Suharto sudah menandatangani 2 lembar surat yang diserahkan oleh pihak polisi dari Polsek Batealit. “Namun karena saya tidak bawa kacamata, saya hanya menandatangani tanpa membacanya. Surat isinya tentang keluarga korban tidak akan meminta otopsi jenazah dan penyerahan jenazah kepala keluarga,” kata Suharto.

Rojak sendiri kepada Mbah San mengatakan kalau sudah bertemu dengan petugas kepolisian dari Polres Jepara dan Polsek Kedung. “Namun saya menghormati keputusan keluarga saya yang sudah menandatangani surat untuk tidak dilakukan tindakan otopsi jenazah kakak saya yaitu Khoiriyah,” imbuh Rojak.

“Saya belum bisa memutuskan untuk melaporkan peristiwa ini ke Polres Jepara untuk didalami dalam kasus dugaan penyekapan dan pengancaman kakak saya almarhumah Khoiriyah. Kalau memang kakak saya bekerja sebagai ART di Desa Ngasem karena dugaan adanya tekanan dan ancaman oleh majikannya yaitu JR warga Desa Ngasem.

Sementara berdasarkan penelusuran oleh Mbah San, bahwa ada 4 orang saksi yang melihat saat korban dijemput oleh beberapa orang sebelum peristiwa kematiannya.

4 orang saksi yaitu
GD tetangga korban
Penjual es teh samping rumah korban
Hajjah … Teman akrab korban
Pemilik warung

Sebelumnya pada saat menemui warga Desa Ngasem yang sedang kerja bakti di Masjid pinggir Jl. Ngasem – Klampitan (perempatan Ponpes Al Falah Ngasem), warga berinisial HR mengatakan kalau memang JR adalah pengusaha rental motor. “Namun orangnya tertutup dan kurang bersosialisasi dengan warga setempat. Katanya warga bahwa yang meninggal dunia di rumah JR sudah bekerja selama 3 (tiga) tahun di rumahnya,” cetusnya.

Namun berdasarkan informasi dari pihak keluarga bahwa korban bekerja di Desa Ngasem baru 2 Minggu dan sebelum wafatnya, Khoiriyah sudah 3 hari tidak pulang ke rumah.
(sus/Jateng)

By suara62

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *