suara62.id || Jepara – Pembangunan saluran irigasi oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Les Londo di Desa Guyangan, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, mendapat sorotan tajam dari publik. Proyek irigasi yang seharusnya menjadi sarana peningkatan kesejahteraan petani itu kini dipertanyakan transparansinya dan kualitas matrial dan pengerjaannya.

Diduga Proyek saluran irigasi Les Londo yang tengah dikerjakan diketahui tidak dilengkapi papan informasi proyek. Kondisi tersebut menimbulkan tanda tanya besar di kalangan masyarakat karena tidak diketahui nilai anggaran, sumber dana, maupun kontraktor pelaksana.

Pantauan di lokasi pada Senin (24/11/2025) memperlihatkan aktivitas pekerjaan masih berlangsung di area persawahan produktif Desa Guyangan,”( Minggu 30 November 2025).

Saat di konfirmasi awak media mengenai matrial batu yang di pakai kok pakai batu lempung dia menjawab katanya salah menurunkan matrial kok bisa aneh tapi nyata.

Dan di tanya lagi lah panjenengan di sini sebagai apa bos mandorkah atau pekerjakah dan menjawab saya hanya main jawab orang tersebut sambil tersenyum tipis.

Warga sekitar menjadi pihak pertama yang melayangkan kritik. Mereka menilai pelaksanaan proyek terkesan tertutup dan tidak sesuai asas keterbukaan publik. Sejumlah petani penerima manfaat langsung juga mengaku khawatir terhadap kualitas bangunan.

Sorotan warga mencuat setelah beredarnya video pengerjaan proyek yang memperlihatkan pekerja mencampur semen merek Grobogan dengan abu batu dalam perbandingan 1:8. Tetapi kenyataan dilapangan tidak sesuai terkait campuran antara abu batu dengan semen, kalau abu batu harusnya untuk memasang paping dan pengaspalan jalan.Video tersebut viral dan menuai reaksi dari masyarakat setempat.

“Kalau cuma semen setengah sak dicampur lebih sepuluh ekrak takaran abu batu, itu mah tipis banget kualitasnya. Kami khawatir pondasi cepat jebol,” ujar seorang warga yang enggan disebut namanya kepada awak media.

Memang aneh dan lucu kok bisa tidak tahu mandornya dan bosnya emang dia kerja itukan ada yang merintah dan ada bigbosnya.

Selain ketiadaan papan proyek yang melanggar ketentuan keterbukaan informasi publik, warga juga menyoroti kualitas adukan yang dianggap terlalu lemah. Campuran tersebut dikhawatirkan tidak mampu menahan debit air tinggi saat musim hujan.

Warga juga menegaskan pentingnya transparansi dan pengawasan ketat dari pihak terkait karena itu anggaran negara bukan uang pribadi nenek moyangnya.

Kami tidak tahu siapa kontraktornya, berapa anggarannya, dari mana sumber dananya. Padahal itu hak masyarakat untuk tahu,” tegas salah satu warga.

Meskipun pihak pemerintah desa disebut turut mengawal proyek tersebut, masyarakat berharap ada pengawasan teknis lebih serius dari BBWS maupun instansi terkait.
Menurut warga, proyek irigasi ini vital bagi ketahanan pangan daerah, sehingga mutu pekerjaan tidak boleh asal-asalan.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak BBWS belum memberikan jawaban keterangan resmi terkait spesifikasi teknis maupun pelaksanaan proyek yang berada di lapangan tersebut.
(sus/Jateng)

By suara62

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *