Suara62.id || JAKARTA – Konflik Israel-Palestina merupakan konflik berkepanjangan, yang di mulai sejak jaman dahulu, di luar perkiraan Orang. Penyerangan yang dilakukan pada 7 Oktober 2023, kembali menjadi perhatian dunia, bahkan lebih besar dari sebelumnya.

Dengan meningkatnya globalisasi peran Media, menjadi penting dalam penyampaian informasi. Namun tidak semua media dapat menyampaikan informasi dengan akurat. Campur tangan Negara besar seperti Amerika Serikat ((AS) dalam proses
penyelesaian konflik dapat memperumit keadaan.

Negara seperti AS memiliki kemampuan untuk
membangun Narasi melalui Media tentang konflik Israel-Palestina, namun Negara-negara barat cenderung memiliki persepsi yang terdistorsi berdasarkan “Stereotip (Gambaran umum dan sederhana tentang suatu Kelompok Orang, yang seringkali berlebihan dan tidak akurat, yang didasarkan pada karakteristik tertentu)” yang keliru, dan berujung pada penggambaran yang buruk terhadap Timur Tengah, Arab dan Islam.

Kejadian ini yang disebut Edward Said, Seorang Akademisi Palestina, sebagai “Orientalisme (Kajian atau Studi tentang Timur, yang meliputi berbagai aspek Kebudayaan, Bahasa. Agama, Sejarah ,dan lain-lain). Negara-negara barat, dengan pandangan orientalis, memiliki kekuatan untuk membangun Narasi dan mempengaruhi
cara Media memberitakan konflik Israel-Palestina, dimana penggambaran yang keliru akan semakin memperlambat proses penyelesaian konflik.

Partisipasi AS dalam proses penyelesaian masalah, justru semakin memperlambat
penyelesaian konflik. Pada awal Januari, Israel dan Hamas sudah menyetujui Perjanjian yang
membahas rencana gencatan senjata. Dalam Perjanjian tersebut dikatakan, bahwa pada tanggal 1 Maret 2025, Israel akan menarik seluruh Armada Militer dari Gaza, dan berkomitmen untuk menghentikan Perang secara permanen. Namun yang terjadi adalah, Amerika dibawah kepemimpinan Trump, membawa Perjanjian baru, yang tidak memastikan adanya penarikan
militer Israel secara penuh dari tanah Palestina. Oleh sebab itu, Perjainjian kali ini di tolak oleh Hamas, yang kemudian enggan mengembalikan Tahanan. Akibatnya, Israel kembali menyerang, melanggar Perjanjian Gencatan Senjata.

Amerika Serikat, dengan pandangan yang orientalis, menyalahkan Hamas atas penyerangan Israel. Merespon dari penolakan Perjanjian, justru Amerika menuduh Hamas membuat tuntutan yang “Sangat tidak praktikal”, Padahal Hamas hanya mempermasalahkan Poin-poin dari isi Perjanjian, yang di nilai menguntungkan Israel, dan merugikan Palestina. Pertama,didalam Proposal, tidak mencantumkan gencatan senjata secara permanen, atau rencana menyeluruh untuk kemunduran Israel dari Gaza, kemudian, tidak ada ijin untuk perpindahan Sipil secara bebas dari Selatan Gaza ke Utara. Selain itu, didalam Proposal tersebut, juga memberikan Israel kontrol atas pelintasan perbatasan Rafah dan koridor
Philadelphia sepanjang perbatasan Gaza-Mesir. Dapat di lihat, bahwa Perjanjian kali ini hanya menguntungkan Netanyahu dan Israel, tetapi AS tetap menuduh Hamas, yang sulit untuk diajak kerja sama. Bahkan, Utusan dari Presiden AS, menuduh Hamas atas “Manipulasi dan Perang Psikologis”.

Amerika Serikat mengatakan, bahwa Proposal tersebut merupakan usaha pemerintahan Trump untuk menyediakan lebih banyak waktu negosiasi dan menghindari kelanjutan Perang. Walaupun kenyataanya, Israel sendirilah yang melanggar Perjanjian tersebut, dan kembali memulai Perang.

Perilaku AS, menurut penjelasan Edward Said, tentang sikap orientalis Negara-negara
barat, terutama di masa modern. Dalam Orientalisme, intervensi barat dan konsekuensinya terhadap pengetahuan ataupun Penduduk asli, tidak dapat di tolak. Dalam bentuk Institusi formal, mereka bertugas sebagai Agen Pengontrol, ungkapan dan implementasi kebijakan, pengontrol
realita, bahasa, dan pemikiran dunia. Campur tangan AS tidak dapat dihentikan oleh Hamas atau Palestina, begitupun dampaknya. Kejadian ini bukanlah suatu hal yang baru.

Amerika Serikat memiliki sejarah panjang dalam konflik Israel-Palestina. Hal ini memberikan kesan, bahwa Negara-negara
di Timur Tengah tidak mampu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Menurut Edward Said, itulah Narasi yang dibangun oleh Negara-negara barat. Negara Arab dan Timur Tengah, digambarkan
sebagai dunia yang takut akan peradaban yang lebih superior. Perjuangan Mereka bukan karena keinginan untuk kemerdekaan, kemandirian politik, atau budaya, tetapi kejahatan dan dendam, sehingga membutuhkan pencerahan dari barat. Itulah mengapa, AS dapat dengan mudah
meremehkan permintaan Hamas, bahkan menyebutnya tidak praktikal. Menurut AS, perjuangan Hamas bukanlah perjuangan untuk kemerdekaan, tetapi upaya penghancuran dan kekerasan. Kenyataanya, Narasi tersebut dibangun untuk mempertahankan kekuasaan dan dominasi.

Media, dibawah kontrol Pemerintah, juga memiliki andil dalam penggambaran Narasi
yang keliru. Dalam pemberitaan, Hamas seringkali disebut sebagai Kelompok terror. Di tambah lagi, Militer Israel mengatakan kepada CNN, bahwa Perdana Menteri yang di kontrol Hamas, penuh akan “Inkonsistensi dan Determinasi palsu”, Ironisnya, Pemerintah Israel tidak membolehkan satu pun Jurnalis, untuk masuk ke Gaza secara independen. Artinya, ada upaya dari Pemerintah Israel untuk mengontrol Media, dan menciptakan gambaran tertentu terhadap Hamas,
yang akibatnya, menghalangi informasi, seperti perjuangan, korban jiwa, kekerasan, dan lainnya, untuk dapat di liput. Dalam orientalisme, pemerintahan oriental memang sering dianggap pemerintahan yang primitif, dan harus di tahan untuk kebaikan sendiri. AS dan Israel menggunakan Media untuk membangun citra negatif dari pemerintahan Hamas, sehingga segala bentuk keputusan dan aksi dianggap merugikan dan membahayakan.

Campur tangan AS dan upaya Israel dalam membangun Narasi kejamnya Hamas,
mengalihkan fokus dari masalah utama, yaitu menghentikan Perang. Di saat penduduk global sibuk membahas siapa yang paling salah, siapa yang memiliki lebih banyak Tahanan Perang, tiap hari Korban Jiwa semakin bertambah akibat perang. Kenyataannya, lebih dari 50,000 (Lima Puluh Ribu) Rakyat Palestina terbunuh di Gaza, dan pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) lainnya terus terjadi. Selama negara kuat seperti AS terus ikut campur dalam proses penyelesaian konflik, yang sebenarnya
hanya memperkeruh keadaan, sebab pandangan orientalis yang dibawa, akan selalu merugikan Palestina.

Konflik Israel-Palestina tidak akan selesai. Tindakan Israel berupa penyerangan
kembali terhadap Palestina dan melanggar Perjanjian gencatan senjata, membuktikan bahwa dari awal tujuannya bukanlah untuk menghentikan perang. Namun, kenyataan ini dapat dengan mudah diubah dan terdistorsi selama negara-negara barat dan orientalisme terus mengontrol Media.

Narasi : Layla Azwa Nur Dzikri (Mahasiswi FISIP Universitas Indonesia | Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)

By suara62

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *