Suara62.id || Tel Aviv, 5 Agustus 2025 — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan telah menyetujui rencana agresi militer untuk menduduki seluruh wilayah Jalur Gaza, termasuk area yang selama ini dianggap terlalu berisiko karena keberadaan sandera. Keputusan itu diambil di tengah tekanan keras dari internal Israel dan komunitas internasional, menyusul kebuntuan negosiasi pembebasan sandera dan meningkatnya kematian warga sipil Palestina.

Menurut laporan dari The Washington Post dan Bloomberg Technoz, Netanyahu dalam rapat kabinet menyampaikan bahwa tiga tujuan utama menjadi dasar pendudukan penuh ini: mengalahkan Hamas, membebaskan sandera, dan menghilangkan ancaman dari Gaza terhadap Israel. Saat ini, Israel dilaporkan telah menguasai sekitar 75% wilayah Gaza.

Namun langkah ini menuai kritik tajam, bahkan dari lingkup militer Israel sendiri. Dikutip dari Bloomberg Technoz, Netanyahu disebut telah meminta Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir, untuk mundur jika menolak melaksanakan rencana tersebut. Ketegangan antara kepemimpinan sipil dan militer pun kian memuncak.

Kebijakan ini juga mendapat perlawanan keras dari ratusan pensiunan pejabat keamanan Israel. Sebanyak lebih dari 550 mantan pejabat militer dan intelijen mengirimkan surat kepada Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump, menyerukan penghentian perang dan kembali ke jalur diplomasi. Mereka menyatakan bahwa Hamas tidak lagi menjadi ancaman strategis, dan kelanjutan perang hanya akan merusak stabilitas Israel di masa depan.

Dari sisi internasional, situasi ini memperburuk krisis kemanusiaan. Data dari lembaga kemanusiaan internasional menyebutkan, lebih dari 60.000 warga Palestina telah tewas sejak perang dimulai, sementara jutaan lainnya kehilangan akses pada makanan, air bersih, dan tempat tinggal.

Rencana pendudukan penuh Gaza ini juga memperumit posisi hukum Netanyahu di mata hukum internasional. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang.

Sementara itu, negosiasi pembebasan sandera mengalami jalan buntu. Utusan AS Steve Witkoff dilaporkan mengusulkan pendekatan baru, yaitu “all or nothing”, yang membuka jalan bagi operasi militer skala penuh bila kesepakatan tidak tercapai.

Meski Netanyahu menyebut pendudukan penuh Gaza sebagai “langkah tak terelakkan untuk keamanan Israel,” banyak pengamat menilai kebijakan ini dapat memperpanjang konflik, memperburuk bencana kemanusiaan, dan menjauhkan solusi damai jangka panjang.

Penulis Agus Indiyono

Sumber : Bloomberg Technoz, The Washington Post, Ambisius News, NY Post

By suara62

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *